Pria tampan dari madinah: kisah Dihyah al-kalbi

            Dihyah bin Khalifah bin Farwah Al-Kalbi adalah salah seorang sahabat Nabi dari golongan Ansar yang sangat masyhur karena memiliki fisik yang sempurna dan penampilan luar biasa menawan. Jika Rasulullah Muhammad SAW adalah pria paling tampan dari kota Makkah, maka penduduk Madinah sepakat bahwa Dihyah Al-Kalbi adalah simbol keindahan dari kota mereka. Ketampanannya begitu memikat, hingga konon setiap kali Dihyah berjalan melewati jalanan kota Madinah, para gadis akan berbondong-bondong keluar rumah demi mencuri pandang ke arahnya.

            Dihyah menyatakan keislamannya pada tahun pertama setelah Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Para ahli sejarah mencatat bahwa ia telah bersyahadat sebelum peristiwa Perang Badar. Meski tidak sempat bergabung dalam kecamuk Perang Badar, Dihyah membuktikan loyalitasnya dengan terjun langsung memanggul senjata dalam Perang Uhud demi mempertahankan Madinah dari gempuran kafir Quraisy. Setelah peristiwa itu, Dihyah tidak pernah absen dalam berbagai kancah jihad. Bahkan setelah Rasulullah wafat, semangat juangnya tidak memudar; ia ikut bertempur dalam Perang Yarmuk pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sebelum akhirnya memutuskan menetap di bumi Syam hingga akhir hayatnya.

            Ada cerita lain di balik ketampanan Dihyah. Menurut riwayat yang sahih, malaikat Jibril kerap turun ke bumi dengan menyaru rupanya. Alkisah, dalam perang ahzab, setelah Rasulullah memastikan kaum musyrikin benar-benar meninggalkan Madinah, beliau pulang ke rumahnya dengan tenang.

Tiba-tiba, malaikat Jibril turun membawa perintah dari langit untuk menghukum kaum Yahudi Bani Quraidzah.

Aisyah bertanya, “Rasulullah, siapa yang berbicara dengan anda tadi?”
“Kamu bisa melihatnya?
” Nabi balik bertanya.
“Ya.” Jawab Aisyah.
“Mirip siapakah orang yang kamu lihat tadi?” tanya Rasulullah kembali.
Aisyah menjawab, “Ia mirip Dihyah Al-Kalbi.”

Rasulullah lalu menjelaskan siapa sebenarnya sang tamu. “Ia adalah jibril yang turun membawa perintah agar aku segera berangkat ke perkampungan Bani Quraidzah.”

            Tidak hanya itu, kombinasi antara kecerdasan, wawasan, dan ketampanan Dihyah membuatnya terpilih menjadi utusan rahasia Rasulullah untuk membawa surat dakwah kepada Heraclius, Kaisar Byzantium (Romawi). Pemilihan ini sangat strategis karena bangsa Romawi sangat mengagumi nilai-nilai estetika dan keindahan. Melalui diplomasi yang cerdas dan bantuan dari pemimpin Bushra, Dihyah berhasil menyerahkan surat tersebut langsung kepada Heraclius di Baitul Maqdis. Meskipun Heraclius dan Uskup Agung mengakui kebenaran kenabian Muhammad setelah membaca surat tersebut, sang kaisar pada akhirnya memilih menolak memeluk Islam karena takut kehilangan takhta dan dibunuh oleh rakyatnya. Dihyah pun menyampaikan hasil misi tersebut kepada Rasulullah dengan penuh amanah.

Teladan yang Dapat Diambil

Dari perjalanan hidup Dihyah Al-Kalbi, terdapat beberapa keteladanan luhur yang dapat kita petik dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Mengutamakan Kualitas Hati di Atas Fisik: Dihyah mengajarkan bahwa anugerah fisik yang rupawan atau harta yang melimpah tidak ada artinya tanpa ketakwaan. Seorang muslim sejati harus lebih fokus memoles keindahan akhlak dan amal daripada sekadar penampilan luar.
  • Totalitas dan Konsistensi dalam Berjuang: Kelebihan fisik tidak membuat Dihyah menjadi pribadi yang manja atau takut bersusah payah. Ia adalah petarung tangguh yang konsisten berada di garis depan medan perjuangan demi membela keyakinannya sejak zaman Nabi hingga masa kekhalifahan.
  • Kecerdasan dan Profesionalitas Mengemban Amanah: Ditunjuknya Dihyah sebagai diplomat tunggal membuktikan bahwa ia adalah sosok yang cerdas, berwawasan luas, taktis, dan sangat tepercaya. Ketika diberi tugas yang berat dan rahasia, ia menjalankannya secara profesional hingga tuntas.

penulis: m. fiqhan ilhami