Misteri makam nabi yusuf dan ambisi mulia sang nenek tua

Di dalam lembaran sejarah para nabi, terdapat sebuah kisah masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak. Kisah ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan sebuah pelajaran agung tentang bagaimana Allah SWT menghargai cita-cita luhur hamba-Nya yang berani memohon kemuliaan tertinggi di akhirat.

            Kisah bermula ketika Nabi Musa a.s. memimpin Bani Israil keluar dari belenggu penindasan di Mesir. Di tengah perjalanan panjang tersebut, rombongan Bani Israil selalu saja menghadapi jalan buntu dan tersesat. Nabi Musa a.s. merasa ada yang ganjil. Para pemuka dan ulama Bani Israil lantas mengingatkan beliau tentang sebuah wasiat lama.

            Dahulu, sebelum wafat, Nabi Yusuf a.s. pernah mengikat janji suci kepada kaumnya agar kelak jasad atau kerandanya tidak ditinggalkan di Mesir, melainkan harus ikut dibawa serta bersama mereka menuju tanah suci. Masalahnya, tidak ada seorang pun di antara generasi masa itu yang mengetahui secara pasti di mana letak pusara atau makam Nabi Yusuf a.s.

            Setelah dilakukan pencarian dan musyawarah, para tetua kaum berkata kepada Nabi Musa, "Wahai Nabi Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui letak kuburan Nabi Yusuf kecuali seorang nenek tua renta dari kalangan Bani Israil.

            Nabi Musa a.s. segera memerintahkan agar nenek tua tersebut dijemput dan dihadirkan di hadapannya. Dengan penuh wibawa, sang Kalimullah berkata, "Tunjukkan kepadaku di mana letak kubur Yusuf."

            Mendengar permintaan dari seorang rasul besar pengemban risalah, nenek tua itu tidak langsung menunjukkan tempatnya. Ia justru mengajukan sebuah persyaratan yang membuat siapa pun terperanjat. Nenek itu menjawab, "Aku tidak akan mau menunjukkannya kepadamu, sampai engkau memberiku satu kepastian."

  Nabi Musa bertanya dengan rasa penasaran, "Kepastian apa yang kau inginkan?"

  Tanpa ragu, nenek renta itu berkata, "Aku ingin menjadi teman yang menemanimu di dalam surga."

            Permintaan itu terasa sangat berat bagi ukuran manusia biasa. Bagaimana mungkin seorang wanita lanjut usia dari kalangan umat biasa meminta kedudukan setinggi itu untuk berdampingan langsung dengan seorang Ulul Azmi di surga kelak? Nabi Musa sempat merasa keberatan atas permohonan tersebut.

            Melihat keraguan di hati Nabi Musa, Allah SWT langsung menurunkan wahyu untuk menegur nabi-Nya. Allah berfirman, "Kabulkanlah permintaannya, wahai Musa."

            Atas perintah langsung dari Sang Pencipta, Nabi Musa akhirnya menyetujui syarat tersebut dan berjanji akan mendoakannya. Seketika itu pula, sang nenek tua menuntun Nabi Musa dan rombongan menuju ke sebuah kawasan rawa atau danau.

            Nenek itu memberikan instruksi yang unik, "Kuraslah air danau ini hingga surut!"

            Setelah airnya dikeringkan, ia kembali berkata, "Sekarang, galilah tanah di tempat ini."

            Bani Israil bergegas menggali tanah yang dimaksud. Tak lama kemudian, mereka mendapati peti keranda berisi jasad Nabi Yusuf a.s. yang masih utuh. Ajaibnya, ketika jasad mulia itu diangkat ke permukaan, seketika suasana sekitar menjadi terang benderang memancarkan cahaya laksana siang hari.

            Kisah ini mengajarkan kita sebuah teladan agung: jangan pernah ragu untuk memohon cita-cita tertinggi kepada Allah SWT, khususnya dalam urusan akhirat. Nenek tua Bani Israil tersebut membuktikan bahwa dengan niat yang tulus dan keberanian memohon surga, Allah dapat memudahkan segala urusan besar, bahkan melalui perantaraan seorang nabi.

إِذَا غَامَرْتَ فِي شَرَفٍ مَرُومِ ... فَلَا تَقْنَعْ بِمَا دونَ النُّجُومِ

"Jika engkau berani mengambil risiko demi kemuliaan yang dicita-citakan, maka janganlah puas dengan sesuatu yang di bawah bintang-bintang (raihlah yang paling tinggi)"

penulis: fikri saepurrohman