Quotes
بِقَدْرِ مَاتَتَعَنَّى تَنَالَ مَاتَتَمَنَّى “Sebesar perjuanganmu, sebesar itu pula peluangmu meraih impianmu.”
TENTANG SETETES BUTIRAN YANG JATUH KE BUMI
by dema | July 31, 2026 | ARTIKEL | 0 Comments
Musim hujan mulai tiba, siapa nih dari antum-antum yang mulai banyak ngeluhnya? Udaranya dingin, Ngeluh badan jadi meriang, jemuran susah kering, jalanan jadi becek-lah, ini lah- itu lah. Jangan salah dulu ya ashhabii..,justru semestinya turunnya hujan adalah suatu...
tentang ma'had aly

Ma'had Aly Al-Falah merupakan lembaga pendidikan tinggi di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri. Lembaga ini diperuntukkan bagi santri lulusan MTs atau sederajat yang ingin mendalami fikih dan usul fikih. Pembelajaran menggunakan metode musyawarah dengan kajian kitab Fathul Qarib, Fathul Mu'in, dan Fathul Wahhab selama delapan semester. Lulusannya dianugerahi gelar Sarjana Fikih wa Ushuluhu (S.F.U.)..
karya lomba DEMA
PUISI
Sosok Kiyai
Wahai yang penuh hati,
Dirimu bagaikan malaikat berwujud insan.
Sifat asih dan kerasmu merupakan asas
bagi terbentuknya karakter dalam diri.
Duhai sang murabbi,
Engkau tanamkan sifat zuhud dalam diri kami.
Engkau ajarkan betapa pentingnya meninggalkan duniawi
ketika dalam keadaan ta'allum fi 'ilmi.
Sang motivator penginspirasi,
Karena nasihatmu yang selalu menggugah hati
untuk bersyukur atas kenikmatan yang diberi,
dengan bersungguh-sungguh dalam thalabul 'ilmi.
Sang alim lagi amanah,
Kau ajarkan kami pentingnya mengaji dengan istiqamah.
Kau ajarkan kami agar selalu sabar atas ujian yang menimpa,
agar bisa mencapai himmah al-'aliyah.
Sang kiai kami,
Terima kasih atas dedikasi yang diberi.
Dalam keadaan apa pun kau tetap mengajar kami.
Semoga ridhomu selalu menyelimuti kami.
SANTRI
Hari demi hari berlalu begitu cepat
Mengisahkan beratnya waktu yang berlalu
Lelah dan letih dihadapi dengan semangat
Tak jarang pula keluh dan kesah terucap.
Namun,
Hati terus meredam dan mengukuhkan niat yang tulus
Hari-hari berjalan dengan kantuk yang senantiasa menghampiri.
Menanti malam dengan senyum yang lesuh.
Mengukuhkan niat untuk bertahan
Melampaui hari dengan ikhlas dan tabah
Tak terasa
Panjang perjalanan telah terlewat
Berawal dari paksaan hingga berujung menjadi kebiasaan
Tiada hari tanpa mengaji,
Jamaah dan khidmah mengharap ridho masyayikh
Menuntut ilmu demi akhirat
Melawan hawa nafsu penuh kerugian
Mempelajari moral dan nilai kehidupan
Membangun pribadi beradab dan berakhlakul karimah
Menjalani hidup berkualitas
Menjadi santri berkarya menjadikan bangsa berjaya.
Wahai Engkau Panutanku
Jejeran awan biru yang rupawan,
Menunggu kelahiran dirimu tepat 16 Mei 1900-an.
Naungan adzan yang dilantunkan setelah hadirnya sosok penting di kehidupan.
Siang dan malam engkau sebarkan agama Islam.
Meski lelahnya langkah kau pijakkan,
hingga pedih hati kau rasakan di tengah-tengah dunia sedang melena manusia.
Engkau jauh menghindarkan diri dari api yang menyambar.
Menjadi kebahagiaan yang justru diperebutkan,
kau hiraukan dan memilih berpaling memandang sebelah mata,
bahwa dunia hanya sementara.
Aturan doa dan pujian-pujian suri engkau panjatkan,
demi terjadinya hubungan dengan Allah Maha Penyayang.
Wahai kiyaiku,
Engkau akan selalu abadi di dalam relungan doaku dan sepertiga malamku. bangsa berjaya.
Penuntun Arah Pulang
Bagaimana aku bisa pulang?
Ke mana arah berlabuh
Bagi jiwa yang tak utuh
Nan raga yang penuh akan peluh
Jadi teduh di setiap keluh
Rumah di setiap gundah
Rumah paling ramah untuk setiap resah
Serta selalu menerima tanpa tapi dan karena
Permata hati yang hidup
Alasan untuk bangkit
Mengiringi yang lumpuh
Dan menuntun si buta
Cahaya di setiap ruang gelap
Punya banyak warna elok
Bukan hanya penyejuk mata
Hati yang dilanda sengsara pula
Obat paling mujarab
Sepanjang zaman yang berjalan
Harapan tak pernah putus
Agar barokah selalu datang darinya.
KHIDMAH SANTRI NUSANTARA
Kertas selalu dengan tangan menari elok di atasnya
Hidup penuh makna dan kebijaksanaan
Indah, sungguh keindahan mana lagi yang terpikirkan
Duduk, larut dalam harmoni makna kehidupan
Menjadi nafas dalam ribuan kehidupan menuju masa depan
Alangkah selalu terucap pujian untukmu, wahai raja kenikmatan
Hakikat yang sungguh menakjubkan
Sujud panjang yang selalu mengharapkan
Angan yang membakar, merekah, merona, mekar
Niat kokoh sedalam lautan, tenang menghanyutkan
Takwa, tawadhu', ikhlas, ikhtiar menjadi pemuas harapan
Rihlah keilmuan menghujam, menembus batas pengetahuan
Inilah rupa seorang yang menjadi pasak agama tak tergoyahkan
Namun, tunggu!! Apa yang berlalu sekarang?
Usaha takwa mana? Tawadhu' yang apa? Dan ikhlas ikhtiar pergi ke mana?
Sungguh menjadi pasak yang berkarat dalam agama
Akankah tanda itu menghilang untuk sekarang?
Namun apa, lihatlah! Apa yang terjadi sekarang?
Tindak tanduk adabiyah mulai pudar mengusang
Raib sudah, hanya menjadi sejarah kata dahulu kala
Akankah tanda itu kembali? Ataukah menghilang lebih jauh dan mengusang lagi?
Kembalilah... Kembalilah...
Asa Perjuangan
Di naungan atap pesantren, di serambi masjid yang teramat antik
Lebih dari seratus tahun pesantren ini berdiri dan dikenal
Lebih dari seratus tahun pesantren ini membuahkan figur-figur masyarakat
Lebih dari seratus tahun juga, pesantren ini diterpa oleh badai cobaan
Ta'lim wa ta'allum, bukanlah thariqah yang mudah
Untuk mewujudkannya, diperlukan kuatnya istiqamah
Seperti yang dimiliki oleh Kyai Ahmad Djazuli 'Ustman, sang founding father Al-Falah
1925, tahun lahirnya pesantren antik ini
Bukanlah era di mana negeri berada di masa yang tenang
Itu adalah masa di mana para musuh menyerang
Membantai kaum pribumi, menguras habis sumber daya kehidupan
Masa dibakar, dan di bumi ratakannya pesantren untuk lain
Tetapi, dengan pertolongan Allah dan tabahnya hati
Pesantren ini mampu tuk tetap berdiri
Hingga terusirnya penjajah dari negeri
"Istiqamah melebihi seribu karamah" adalah pesan yang selalu beliau wanti-wantikan
Semua yang beliau usahakan, membuahkan hasil yang sepadan
Putra-putrinya menjadi tokoh penegak agama yang terpandang
Wahai Kyai Ahmad Djazuli 'Ustman
Kami memohon maaf, apabila terdapat khilaf
Doa kami seluas samudera, kan selalu kami panjatkan
Keindahan Itu Disebut Alir
Kami mendongak
Menatap langit plosonesia
Tempat kami bernaung di bawahnya
Langit sang dua telinga
Tempat di mana blawong berkicau di antaranya
Kami berjajar
Menirukan kicauan blawong yang semakin menggema
Perihal sang belawang dan kicauannya
Merdunya mengalir dari hulu ke hilir muridnya
Yang takkan terputus tanpa seizin-Nya
Gemerlap Ploso yang belum sunyi
Sebab beribu pena yang masih menari-nari
Menghiasi setiap sudut yang pernah disentuh kyai
Berharap alirannya dapat diwarisi
Takkan meluruh dan jadi saksi abadi
Bahwa belawang berkicau merdu benar adanya
Bahwa di Plosolah sumur untuk menimba tercipta
Dengan penuh di atas tikar yang turut andil
Membawa terang di tengah Ploso yang sunyi
Yang menuntun sanubari atas nikmatnya tholabul 'ilmi.
Duhai Bukhari Al Falah
Lewat kata atas segala yang bersemayam di kepala.
Kutulis kembali dengan himpunan rasa rindu.
Lentera hidupku penuh warna dengan keindahanmu.
Datangmu membawa cahaya yang abadi hingga menembus sanubari.
Tutur katamu menjadi rumus yang melahirkan insan beriman.
Kala bulan menyusuri ketika itulah air mata jatuh membasahi.
Pagi berganti siang, siang berganti malam.
Kau ajarkan kami menerangi gelapnya kehidupan.
Di tengah dunia yang mengejar dunia.
Jiwamu melarut dalam kesunyian sepertiga malam menjalin kasih
dengan Ilahi Rabbi.
Romo Yai Nurul Huda Djazuli
Kala dunia mulai gemerlap
Bagaikan siang yang berganti gelap
Banyak insan yang kian terlelap
Dalam fenomenanya yang tak lagi kunjung tuk ditangkap
Namun siapa sangka
Jauh dalam dunia terpencil sana
Al-Falah Ploso lebih tepatnya
Terdapat sosok yang masih mengalir
Darah sang blawong di dalamnya
Romo Yai Nurul Huda Djazuli
Beliau murobbi ruhi kami
Beliau senantiasa menuntun kami
Bahkan kala dunia membenci
Tak eloklah jika banyak hal ingin kami beri
Pada beliau yang kami cintai setulus hati
Sebab kami tak hanya puas dengan prestasi
Tapi, juga ingin mempersembahkan seutuhnya yang kami miliki
Pantaskah kata feodal terpatri pada Romo Yai
Salahkah jika kami merajakan insan yang
Senantiasa membimbing kami
Bahkan kala pelita tak benderang lagi
Romo Yai tak pernah henti layangkan doa pada Sang Ilahi
Agar kami menjadi insan berjiwa salafi
Yang tak hanya menguatkan pondasi islami
Tapi juga mampu mengawal negeri
Penerus Keluhuran Al Falah
Di tengah hiruk periuknya nikmat dunia
Yang mana maksiat semakin merajalela
Di saat semua orang seakan menutup mata
Tentang pentingnya ilmu dan adabiyah
Hal itulah yang akan menjadi tantangan
Bagi kita santri penerus keluhuran
Dengan membangun pilar-pilar keilmuan
Walau hanya berpegang pada kitab kuning
Adabiah dan syariat dari rasulillah
Untuk melanjutkan perjuangan beliau
Simbah Nyai Djazuli Utsman
Iyalah sosok cahaya penerang bagi kami
Dengan memberikan seluruh ilmunya
Namun, tak bisa kubalas selain doa yang ku punya
Ku selipkan doa itu di setiap sujudku
Dan ku teruskan cahaya ilmu darimu
Untuk menerangi surutnya zaman ini
Kan kujawab setiap tantangan zaman
Dengan adab dan ilmu seperti yang kau ajarkan.
Kami Santri
Perkenalkan... ini kami seorang santri.
Patriot yang dididik untuk menjadi motivasi.
Melangkah maju dengan berbagai inovasi.
Membawa pelita di tengah suramnya zaman ini.
Kami adalah santri,
Yang tidak hanya bisa berdzikir dan mengaji.
Tetapi kami memiliki jutaan potensi,
Untuk menyempurnakan peradaban negeri.
Kini zaman sudah semakin maju.
Namun sayang masih banyak orang yang beramal tanpa ilmu.
Ramai pula orang berilmu tapi tidak mau mengamalkannya.
Menjadi kendala bagi kemajuan bangsa.
Dan kami adalah santri.
Putra-putri kyai Djazuli.
Ilmiah Amaliah semboyan kami.
Memupuk bangsa dengan agama tujuan kami.
Kan kami teruskan perjuangan Romo Yai.
Meneguhkan Khidmah dan melestarikan ngaji.
Membangun peradaban baru dengan wajah islami ikrar kami,
dari santri untuk negeri.
Sang Khadijah Abad 20
Di malam yang sunyi, di antara kitab suci
Seseorang menunduk, hati bersuci
Hatinya terteduh, memancarkan ilahi
Menjadi penerang di gelapnya sunyi
Iyalah Ummul Ma'had Al Falah Ploso
Beliau sosok wanita yang tangguh
Wanita yang selalu bersyukur dan tak pernah mengeluh
Yang menjadi mitra sejati kyai Djazuli
Engkau adalah lentera di tengah kegelapan
Penuntun arah di tengah kebingungan
Pendiri teguh di samping kyai Djazuli
Bukan sekedar pendamping, tapi pilar yang mandiri
Setiap langkahnya adalah ibadah
Setiap nafasnya adalah doa
Tetesan keringatnya menjadi saksi bisu
Tentang perjuangan tanpa henti
Lokal adalah inspirasi bagi wanita penerus bangsa
Bahwa peranmu nyata, tidak hanya dibalik bilik semata
Kau langkahkan kaki tanpa keraguan
Dan semangat jiwa yang membara
Ibu nyai Rodliah...
Engkau permata yang abadi
Suri teladanmu menjadi cerminan masa depan kami
Walau raga telah tiada namun tetap harum mewangi
Doa-doa kami panjatkan untuk ketenangan jiwamu
Hebat Tanpa Debatnya (Sejarah Sang Blawong)
1926...
Menjadi tahun bersejarah di sebuah bumi bernama Al Falah,
Sejarah perjuangan seorang putra naif yang menjadi detak ulama Al Falah,
Ialah sang blawong.
Sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tak pernah pudar.
Pembawaannya yang tenang dan bijaksana
Menunjukkan betapa berwibawanya tokoh Djazuli itu,
Tekad yang tak pernah padam.
Diri yang tak pernah goyah,
Semuanya semata mengharap ridho dan cinta sang pencipta dunia,
Menjadi pertanda dengan jutaan manusia
Yang menganggap dunia sebagai keabadian.
Lain hal dengan yang menganggap
dunia hanya sebuah fatamorgana semata.
Sang Blawong lahirnya memberi kesan cerita hebat tanpa debat.
Tekad
Hari ini, aku melangkahkan kakiku di sini.
Hari ini, aku menyerahkan diriku pada Romo yai,
berniat mencari ilmu dan mendekatkan diri pada ilahi,
serta berniat menjadi pribadi yang mandiri.
Waktuku kehabisan untuk mengaji
melatih diri agar menjadi terpuji
membersihkan isi hati menjaga adab dan berbakti.
Di sini, tata krama dipelajari
tutur kata dan segala hal dikuasai
bukan hanya sekedar mengaji
tapi, seluruhnya dipahami.
Rela bangun pagi untuk tholabul Ilmi
sekedar membaca, menulis dan mengaji selalu kujalani
setiap hari meneguhkan tekad menjadi santri.
Tentang DEMA

DEMA Al-Falah Ploso merupakan singkatan dari Dewan Eksekutif Mahasantri, organisasi kemahasantrian di Ma'had Aly Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Organisasi ini menjadi wadah bagi mahasantri untuk mengembangkan bakat, kepemimpinan, serta keterampilan dalam berbagai bidang. DEMA berkomitmen mencetak generasi yang mampu menguasai ilmu keislaman sekaligus menyebarkannya melalui cara-cara yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai dan tradisi pesantren.
karya lomba DEMA
GAMBAR















