Sebagai seorang Santri, kita mungkin sudah tak asing dengan Istilah Bahtsul Masail, Forum Musyawarah atau sejenisnya, yakni Suatu majlis yang memiliki misi untuk menyelesaikan suatu persoalan, yang biasanya identik dengan persoalan Fiqh yang timbul dari prolematik masyarakat yang kemudian akan disikapi dengan kacamata Syara' bertendensikan kitab-kitab klasik karya para ulama terdahulu. .
Bericara tentang Bahtsul Masail ada suatu kisah yang cukup menarik dan mungkin bisa menjadi pemantik semangat para pegiat ilmu untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan.
“Pernahkah kamu merasa kalah, padahal kamu tahu dirimu benar?”
Saat kebenaran yang kita perjuangkan tak didengar, ketika suara kita tenggelam di tengah gulungan ombak pengaruh dan kepentingan. Tapi tahukah kamu, di balik sejarah bahasa Arab yang agung, ada seorang ulama yang mengalami hal serupa .Bagi kalian yang sudah pernah belajar ilmu nahwu pasti tak asing dengan beliau, Namanya Imam Sibawaih, sang pelita ilmu yang padam karena luka di dada, bukan karena lemahnya logika.
Imam Sibawaih, yang nama aslinya 'Amr bin 'Utsman bin Qanbar, lahir di Persia sekitar tahun 148 Hijriah. Ia bukan orang Arab, namun kecintaannya pada bahasa Arab begitu mendalam. Awalnya ia belajar ilmu hadis, tapi suatu hari saat sedang membaca hadis, ia keliru dalam satu kaidah bahasa. Gurunya menegurnya, dan teguran itu membuat Sibawaih bertekad: “Aku akan mendalami bahasa Arab hingga tak ada lagi yang bisa memperbaiki ucapanku kecuali kebenaran itu sendiri.” Sejak saat itu, ia menekuni ilmu nahwu, cabang ilmu yang mengatur tata bahasa Arab. Ia belajar kepada ulama besar Khalil bin Ahmad al-Farahidi, penemu ilmu arudh (ilmu syi'ir) dan pelopor kaidah bahasa Arab. Dari gurunya itu, Sibawaih mewarisi bukan hanya ilmu, tetapi juga ketelitian dan cinta terhadap keindahan bahasa. .
Bertahun-tahun ia mengembara, meneliti, menulis dan mendengarkan dialek suku-suku Arab yang masih fasih. Dari ketekunannya lahirlah karya legendaris “Al-Kitab”, kitab yang hingga kini dianggap sebagai ensiklopedia pertama dan paling berpengaruh dalam tata bahasa Arab. Para ulama sesudahnya menyebut, “Siapa pun yang ingin memahami bahasa Arab dengan benar, maka jalannya harus melalui kitab Sibawaih.” Namun, di balik kejeniusannya, ada kisah getir yang menorehkan luka dalam sejarah keilmuan.
Suatu ketika, Khalifah Harun ar-Rasyid mendengar kabar tentang dua tokoh besar ilmu nahwu yang tengah bersaing: Sibawaih dari Bashrah dan Al-Kisā'ī dari Kufah, guru anak-anak khalifah sendiri. Maka diadakanlah majlis besar di istana untuk mempertemukan keduanya dalam perdebatan ilmiah.
Suasana majlis begitu tegang. Para ulama, pejabat, dan sastrawan duduk menyimak dengan penuh perhatian. Pertanyaan pun diajukan:
“Bagaimana pendapat kalian tentang kalimat ini كنت أظن أن العقرب أشد لسعاً من الزنبور فإذا هو إياها?”
(“Aku kira kalajengking lebih menyengat daripada lebah, ternyata dia itu juga.”)
Sibawaih menjawab tegas, “Bentuk yang benar adalah فإذا هو هي (fa-idza huwa hiya), bukan إياها (iyaaha), karena struktur kalimatnya tidak membutuhkan dhamir maf'ul seperti itu.”
Namun Al-Kisā'ī menolak pendapatnya, mengatakan bahwa bentuk إياها juga digunakan oleh sebagian orang Arab Badui. Khalifah pun memerintahkan agar didatangkan beberapa orang Badui untuk menentukan siapa yang benar. Tapi rupanya, orang-orang yang datang adalah pendukung Al-Kisā'ī, karena pengaruhnya di istana sangat besar. Mereka pun menjawab sesuai keinginan gurunya. Keputusan pun dijatuhkan: Sibawaih dianggap tidak benar.
Namun semua yang hadir tahu, bukan logika yang menang hari itu, melainkan kekuasaan. Sibawaih menunduk, hatinya perih. Ia tahu dirinya benar, tapi dunia tak selalu berpihak pada kebenaran. Dengan langkah pelan dan dada sesak, ia meninggalkan Baghdad, kota ilmu yang dulu ia cintai. Dalam perjalanan kembali ke tanah kelahirannya, Fars, Sibawaih jatuh sakit. Dikisahkan, ia sempat berkata lirih,
“Mereka tak mencari kebenaran, melainkan kemenangan.” Kalimat itu menjadi tanda luka yang tak pernah sembuh. Tak lama kemudian, beliau wafat dalam usia muda - sekitar tiga puluh tahun lebih sedikit - meninggalkan dunia dengan hati yang remuk tapi ilmu yang abadi.
Meski tubuhnya tiada, jejak ilmunya tak pernah pudar. Kitabnya menjadi sumber utama bagi semua ulama nahwu setelahnya. Bahkan Al-Kisā'ī, lawannya dalam perdebatan, tetap mengakui kehebatan ilmunya. Imam Al-Jahizh pernah berkata,
“Barang siapa ingin memahami bahasa Arab, tidak ada jalan lain kecuali melalui kitab Sibawaih.”
Dari kisahnya kita belajar bahwa kebenaran tidak selalu menang di dunia, namun ia tetap hidup dalam waktu. Sibawaih kalah di hadapan manusia, tapi menang di hadapan sejarah. Ia menunjukkan bahwa berjuang demi ilmu dan kebenaran mungkin tak memberi tepuk tangan, tapi memberi keabadian.
Dari kisah ini mungkin kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting, seperti -kadang kita lelah memperjuangkan sesuatu yang benar, apalagi ketika dunia tampak lebih menghargai suara yang keras daripada kata yang benar. Tapi kisah Imam Sibawaih mengajarkan: jangan berhenti karena kecewa. Sebab waktu akan membuktikan, bahwa yang lahir dari keikhlasan takkan pernah benar-benar mati.
