SANTRI DAN DA’WAH DI DUNIA DIGITAL

dema

0

Pendahuluan

      Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan signifikan dalam cara manusia berkomunikasi dan menyebarkan informasi. Dunia digital kini menjadi ruang baru yang membuka peluang sekaligus tantangan bagi umat Islam, khususnya santri. Sebagai generasi penerus ulama, santri memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk berdakwah dan menyebarkan nilai-nilai Islam secara bijak. Santri yang beradab melalui media sosial, tetap berpijak teguh pada prinsip-prinsip syariat, baik berupa al – Qur’an, hadist, ijma’, dan ataupun qiyas. Serta tetap eksis mempertahankan warisan warisan para ulama yg termaktub dalam kitab kitab turats yg biasa para santri baca dan mengkajinya.

Santri sebagai Pewaris Dakwah

      Santri dikenal sebagai individu yang menuntut ilmu agama dengan niat tulus karna allah SWT. Mereka bertanggung jawab untuk melanjutkan upaya para ulama’ dan para kyai dalam menyebarkan agama islam ahlus sunnah waljamaah. Nabi Muhammad SAW bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
(HR. Bukhari)

"Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat."

Hadits ini menjadi dasar bagi setiap muslim, khususnya santri, untuk memiliki kewajiban menyampaikan kebenaran sesuai kapasitasnya. Di era digital, kewajiban ini tidak hanya dilakukan di mimbar atau majelis taklim saja, tetapi juga melalui media sosial, situs web, podcast, dan platform digital lainnya. Di samping itu, santri juga harus bersih keras untuk tetap menjadi pegangan umat dalam hal bagaimana cara bersosial media yang baik dan benar tanpa memiliki rasa arogan atau ingin menang sendiri.

Dakwah di Dunia Digital

      Dakwah digital berarti menyampaikan nilai-nilai Islam melalui media teknologi yang mudah tersebar dan  banyak digemari orang, seperti YouTube, Instagram, TikTok, atau blog. Para santri dapat membuat konten yang menarik, edukatif, dan bermoral, seperti video kajian agama, tulisan renungan atau nasihat dan quotes sehari-hari. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik."
(QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan adab, bukan dengan emosi atau hinaan, atau bahkan ujaran kebencian. Dunia digital sering kali menjadi arena perdebatan dan fitnah, sehingga santri perlu hadir sebagai penenang dan penyebar kebaikan. Bahkan mereka juga harus berani menyampaikan kebenaran dan membenahi konten-konten yang salah atau bahkan tidak sesuai dengan ketentuan syariat, baik dengan memberi kritikan atau memberi penjelasan yang lebih tepat dengan tendensi - tendensi yang mu’tabar, dengan berpegang pada kitab – kitab turost ala 4 madzhab. Namun harus mempertimbangkan keadan umat sekarang. Jika maslahat lakukan, madhorrot tinggalkan dan buang jiwa - jiwa kegengsian yang berakibat fatal.

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

"Katakanlah yang benar walaupun pahit."

    Etika dan tantangan dakwah digital

  Meskipun mudah diakses, dakwah digital juga menghadirkan tantangan yang signifikan: misinformasi, ujaran kebencian, dan konten yang menyesatkan. Santri dituntut untuk selektif dan bijaksana dalam mengelola informasi. Nabi muhammad SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pedoman etika santri dalam berdakwah di dunia digital. Menebarkan kebaikan dan menjauhi ucapan yang membahayakan. jangan sampai para santri tidak selektif dalam membuat konten, terlebih yg ada kaitannya denga kepribadian dan kebiasaan para santri di pondok. Ketika tidak ada maslahat atau bahkan menimbulkan mudarat, alangkah baiknya diam dan tidak perlu ngonten.