Pada suatu pagi di pesantren, indah kicau burung bersahutan dengan bait-bait syi'ir yang penuh makna. Mereka menyatu saling melengkapi bak sebuah melodi yang indah. Namun di balik tembok pesantren ada gemuruh lain. Bukan syi'ir, tapi teriakan dan caci-maki manusia yang membelah mereka menjadi kanan dan kiri di antara jurang yang semakin diperdalam. Di dunia luar kata "benar" sering bersanding dengan amarah, iman kerap kali dipertontonkan "dibawah" bendera kebencian. Dengan keadaan pecah belah dunia butuh sosok yang berdiri di garis tengah, sosok yang membangun jembatan di antara kedua kubu, sosok yang sekarang kita sebut dengan santri—Sang moderat.
Lihatlah ada yang menuduh maulid sebagai bid'ah, tahlil sebagai sesat; seolah rahmat harus diseragamkan dalam satu rupa. Di ruang politik: perbedaan pilihan dianggap sebagai perbedaan iman; seolah surga hanya untuk satu partai saja. Satu kubu menolak terhadap modernisasi, tapi kubu lain mabuk modernisasi. Bahkan caci maki pedas terjadi di sosmed dengan alasan beda ustadz favorit, sungguh sepele. Itu semua bisa kita sebut dengan polarisasi.
Kata "polarisasi" terbentuk dari kata polar yang artinya kutub. Bisa dipahami polarisasi adalah perpecahan menjadi dua kutub yang berlawanan. Sumber polarisasi banyak sekali dan menghasilkan bentuk yang berbeda-beda. Tapi tiga penyebab umum yang sering terjadi ini harus kita ketahui:
A. Kedangkalan ilmu dan kurangnya pemahaman secara utuh
Banyak orang-orang di luar pesantren sudah cukup belajar agama lewat video berdurasi dua menit di sosmed. Cepat tapi dangkal. Akibatnya orang-orang sering menyalahkan atas dasar video dua menit tadi atau kata-kata dua paragraf, semua bisa menjadi ustadz dengan sederhana. Akan tetapi, di pesantren kita diajarkan membuka kitab syarah dan melakukan tabayyun (klarifikasi). Memang tidak dua menit tapi imbas dengan hasilnya. Dari sana lahir pemahaman yang utuh, berhati-hati dalam berfatwa dan tidak semena-mena dalam menyalahkan.
B. Fanatik Berlebihan
Cinta terhadap tokoh, ustadz atau kelompok tertentu itu boleh, bahkan bisa baik. Tapi ketika cintanya hingga menutup kebenaran dari yang lain itu tidak baik. Sejalan dengan Gus Dur di bukunya "Islamku, Islam Anda, Islam Kita" cinta terhadap tokoh atau kelompok tertentu yang menutup kebenaran dari yang lain itu bukan rahmatun lil alamin tapi suatu perpecahan. Selain kurang pemahaman dan fanatik berlebihan, pengaruh sosmed juga tidak bisa dilupakan.
C. Pengaruh sosial media
Di sosmed semua orang bisa berbicara, bahkan tanpa dasar yang kuat. Algoritma yang menampilkan konten-konten yang kita suka juga ikut memperparah keadaan. Apa yang mereka tidak suka dianggap salah. Yang benar hanya apa yang mereka suka. Dari sana kebencian lahir, karena hati yang tak pernah mendengar sisi lain akan kehilangan empati. Para santri terbiasa bermusyawarah, mereka berdebat saling melontarkan pendapat. Terkadang dengan nada tinggi juga tawa. Tapi setelah itu mereka memasak di dapur yang sama bahkan makan dalam wadah yang sama.
"Janganlah kamu menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin, karena hal itu adalah sumber kelemahan dan kehancuran."
— KH. Hasyim Asy'ari, Adab al-'Alim wal Muta'allim
Lantas jika perpecahan itu sudah terjadi dengan apa menyatukannya kembali.
Memang tidak mudah untuk itu. Menyatukan piring yang pecah tidak semudah memecahkannya. Setidaknya ada yang hadir di garis tengah, yang membangun jembatan di atas jurang antara mereka yang sedang terpecah; santri-santri moderat. Menjadi moderator dalam kehidupan sosial sama seperti ketika kita bermusyawarah. Tugasnya untuk mengatur jalannya musyawarah agar berjalan dengan lancar. Sosial juga begitu, perlu moderator yang menjaga agar tak ada retak atau jurang yang timbul karena perpecahan. Santri diajarkan bukan hanya membaca kitab, tapi belajar mendengar sebelum menghakimi, memahami sebelum membenci. Itulah sejatinya "moderat".
"Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia yang dizalimi atas nama Tuhan."
— Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

