Di antara tokoh agung yang hidup pada masa Bani Israil, Yusya' bin Nun adalah sosok istimewa yang mendapatkan kedudukan tinggi. Beliau adalah murid sekaligus pembantu setia Nabi Musa ‘alaihissalām, yang kemudian diangkat menjadi nabi untuk memimpin Bani Israil setelah Nabi Musa dan Nabi Harun wafat.
Keutamaan beliau terekam dalam riwayat sahih mengenai mukjizat matahari yang tertahan demi terselesaikannya pembebasan Baitul Maqdis.
Hadis Tentang Nabi Yusya’ bin Nun
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis panjang yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "غَزَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، فَقَالَ لِقَوْمِهِ: لَا يَتْبَعْنِي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ، وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا وَلَمْ يَبْنِ، وَلَا آخَرُ بَنَى بُيُوتًا، وَلَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا، وَلَا آخَرُ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ، وَهُوَ مُنْتَظِرٌ وِلَادَهَا..." فَلَمَّا أَشْرَفُوا عَلَى الْقَرْيَةِ قَالَ لِلشَّمْسِ: إِنَّكِ مَأْمُورَةٌ، وَأَنَا مَأْمُورٌ، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا. فَحُبِسَتْ.
Artinya:
“Seorang nabi di antara nabi-nabi Allah berperang. Ia berkata kepada kaumnya: ‘Jangan mengikutiku orang yang baru saja menikahi wanita dan ia ingin membangun rumah tangga bersamanya namun belum sempat berduaan; jangan pula orang yang sedang membangun rumah namun belum menyelesaikan atapnya; dan jangan pula orang yang membeli kambing atau unta yang sedang bunting dan ia menanti-nanti kelahirannya...’ Ketika mereka telah mendekati kota tersebut (untuk penaklukan), ia berkata kepada matahari: ‘Sesungguhnya engkau diperintahkan (oleh Allah) dan aku pun diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari itu untuk kami.’ Maka matahari itu pun tertahan (hingga Allah memberikan kemenangan).” (HR. Bukhari & Muslim)
Para ulama sepakat bahwa nabi yang dimaksud dalam hadis ini adalah Yusya’ bin Nun, sang panglima yang memimpin Bani Israil keluar dari padang pasir Tih menuju tanah suci (Yerusalem/Ariha).
Makna dan Pelajaran dari Hadis Ini
1. Fokus dan Totalitas dalam Perjuangan
Yusya’ bin Nun melarang tiga golongan ikut berperang bukan karena mereka buruk, melainkan karena hati mereka masih terikat dengan dunia (istri, rumah, dan ternak). Seorang pejuang membutuhkan konsentrasi penuh; hati yang mendua dapat melemahkan mental di medan laga.
2. Ketaatan Mutlak kepada Sang Pencipta
Ucapan beliau, “Engkau (matahari) diperintahkan dan aku pun diperintahkan,” menggambarkan kesadaran tauhid yang mendalam. Baik manusia maupun benda langit, semuanya adalah hamba Allah yang tunduk pada aturan-Nya.
3. Mukjizat sebagai Pertolongan Allah
Ditahannya matahari adalah mukjizat luar biasa yang menunjukkan bahwa alam semesta bisa tunduk atas izin Allah demi mendukung hamba-Nya yang sedang menegakkan kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat lain: "Matahari tidak pernah ditahan untuk manusia mana pun kecuali untuk Yusya' saat ia berjalan menuju Baitul Maqdis." (HR. Ahmad).
4. Pentingnya Manajemen Waktu dan Keadaan
Yusya' menyadari bahwa jika malam tiba sebelum kemenangan diraih, moral pasukan bisa turun atau musuh bisa mengatur strategi baru. Doa beliau untuk menahan matahari menunjukkan kecerdasan taktis seorang pemimpin dalam memanfaatkan momentum.
Penutup
Kisah Yusya' bin Nun tidak hanya menyuguhkan keajaiban, tetapi juga teladan tentang kepemimpinan yang selektif, keberanian, dan tawakal yang sempurna. Dari beliau, kita belajar bahwa kemenangan hakiki diraih melalui perpaduan antara persiapan manusia yang matang (strategi) dan permohonan pertolongan kepada Allah secara tulus.

