Di balik tembok-tembok surau yang sunyi dan mushaf-mushaf yang tak lelah dibaca, bumi sedang menjerit. Langit yang dulu biru kini tak lagi jujur. Pohon-pohon merunduk gugur, sungai-sungai kehilangan beningnya, dan udara mulai enggan bersahabat. Dunia tak lagi nyaman dalam dekap manusia, sebab manusia sering abai dalam menjaganya.
Di manakah santri saat dedaunan merintih, dan tanah mengering dalam luka? Bukankah Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya sekedar manusia layaknya insan dijagad raya?. Sebagaimana termaktub dalam QS.Al-anbiya:107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Ayat ini tak hanya melahirkan kecintaan, tapi memikulkan tanggung jawab. Maka santri, sebagai penjaga ilmu dan penyeru akhlak, tak bisa hanya diam saat bumi terluka.
Pesantren sejatinya adalah taman-taman ilmu, taman akhlak, dan taman jiwa. Maka wajarlah bila santri yang tumbuh di dalamnya, menyatu pula hatinya dengan alam. Bagi santri, daun bukan sekadar daun; ia adalah ayat Tuhan yang terhampar. Air bukan hanya pembasuh wudhu, tetapi saksi kesucian dan keberlanjutan. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menyebut bahwa alam adalah cermin yang memantulkan asma Allah. Maka merusaknya sama dengan mengabaikan tanda-tanda Tuhan. Bahkan ulama salaf juga mengajarkan bahwa ilmu harus berbuah manfaat, dan manfaat tak pernah lahir dari tangan yang mencemari.
Dalam Ta'lim al-Muta'allim, sebuah bait singkat namun tajam berbunyi:
العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ
"Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah.”
Maka ilmu tentang adab terhadap alam, wajib ditumbuhkan pula amalnya dalam laku keseharian, dalam etika bertani, membuang sampah, dan memanfaatkan air. Imam Nawawi dalam Raudhah membahas bahwa membuang najis di tempat umum termasuk tindakan keji, apalagi merusak lingkungan yang menjadi hak bersama.Bahkan hadis Nabi ﷺ menyebut:
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةًوَإِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
"Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang,dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah bagian dari iman."(HR. Muslim)
Betapa agungnya akhlak seorang mukmin, bahkan selembar sampah pun tak dibiarkan berserak di jalan. Kini, banyak pesantren mulai menggulirkan gerakan Eco-Pesantren: gerakan berbasis nilai-nilai Islam untuk merawat bumi. Hal ini bukanlah slogan semata, tapi gerakan nyata yang berpijak pada adab dan ilmu. Santri Hijau tidak hanya pandai membaca kitab, tapi juga membaca langit yang redup, membaca tanah yang menanti kasih, dan membaca air yang minta dilestarikan.
Langkah-langkah nyata itu bisa berupa:
-Menanam satu pohon setelah setiap hafalan juz ‘amma.
-Mengelola sampah berbasis kompos dan daur ulang.
-Mengadakan kajian “Fiqih Lingkungan” di malam Kamis.
-Menjadikan ngaji alam sebagai tradisi, bukan wisata semata.
Menjadi santri berarti menjadi pemilik kesadaran. Bukan hanya sadar hukum halal haram, tapi juga sadar bahwa setiap asap yang dibuang ke langit adalah catatan, setiap air yang terbuang sia-sia saat berwudhu adalah hisab, setiap daun yang dikoyak tanpa makna adalah kelalaian.
Bumi tidak meminta kita menjadi pahlawan, cukup menjadi penjaga. Sebab bumi, sebagaimana pesan ulama terdahulu, bukan warisan nenek moyang tapi titipan dari anak cucu.
Santri yang mencintai alam bukanlah pengikut tren. Ia sedang melanjutkan risalah Nabi. Ia menanam dengan takbir, menyiram dengan tasbih, dan memanen dengan syukur.
Bila bumi tak lagi sanggup menanggung beratnya beban manusia, maka santri harus berdiri, bukan untuk berdebat, tapi untuk bergerak. Sebab hijrah santri tidak hanya dari gelap ke terang, tapi dari diam ke peduli, dari tahu ke merawat. “Barang siapa menanam kebaikan di bumi, ia akan menuai langit yang ridha.”
Dari pesantren yang sederhana, semoga tumbuh jiwa-jiwa hijau yang merawat semesta.
